Senin, 09 Juni 2014

Cerpen

DUKA SENJA
(Mungkin diksinya kurang pas. Tapi tak menjadi penghambat semangatku untuk selalu menulis. Allahumma Yassir Wa Laa Tu'assir. Amiin.) 

---------------------------------------------
Rintik gerimis sore itu membasahi tanah yang sudah lama rindu akan tetesan banyu, tanah yang selama kurang lebih dua tahun aku tempati. Suasana lengang, sunyi, seperti tak berpenghuni menyelimuti keadaan sore ini yang semakin gelap dan mencekam, ditambah suara guntur dan kilatan  halilintar juga angin kencang makin menambah keadaan terkesan menakutkan.
            “mama..mama..’’  suara sepeti anak kecil dari dalam kamar sontak mengagetkanku yang sejak tadi berdiri mematung didepan figura foto mama dan keluargaku yang lain. Acapkali aku jadi terkenang memori 3 tahun yang lalu, disaat aku masih tinggal serumah dengan ibu dan adik-adikku.
“mama..mama..” kembali untuk keduakalinya suara tersebut membuyarkan memoar kenanganku.
“siapa disitu?” kubuka mulutku yang sejak tadi gemetar kedinginan.
“ma..ma..ma..a..”  suaranya sangat terbata-bata, sayup-sayup, menghilang, muncul lagi, begitu seterusnya.
Bergidik bulu kudukku ditengah pekatnya sore ini. Suara anak kecil tadi membuatku merinding karenanya. Aku sudah mencoba merayu suamiku untuk segera pindah dari rumah ini. Banyak keganjilan yang kurasa selama tinggal di rumah mungil ini. Tapi suamiku selalu saja tak  mengenyahkan. Sebagai isteri, yaa aku terima saja apapun keputusan dari suamiku.
Kembali kudengar suara itu..”maaa”..
Duuh aku semakin takut, kubuka gorden jendela, berharap belahan jiwaku kan segera datang. Memang sangat sehati sekali. Kulihat suamiku dengan Honda jazz silver nya tiba di depan rumah. Dengan perasaan lega kusambut kedatangan suamiku.
“Assalamu’alaikum..”
“wa’alaikum salam” jawabku sambil kucium tangannya yang agak basah.
Kubiarkan suamiku duduk di ruang tamu,kubikinkan teh hangat. Di senja itupun kuungkapkan rindu yang bergumul di hatiku sejak sebulan yang lalu ditinggal keluar kota.
“pah..gimana proyeknya?” ku mulai pembicaraan
“Alhamdulillah, isteriku,, papa dipercaya sebagai pemegang saham di perusahaan itu”
“Alhamdulillah ya pa..jangan sampai papa lupa ibadah, itu semua cuma titipan dari Allah”
“Hmmm”. Hanya itu respon dari suamiku.
Kembali kulanjutkan pembicaraan. “oya pa,, semenjak ditinggal papa, mama selalu denger anak kecil manggil-manggil dari kamar”
“hmm itu cuma perasaan mama ja”. Selalu begitu respon dari suamiku.

Kepulangan suamiku kali ini terasa aneh sekali. Kulihat gelagatnya yang sedikit beda dari sebelumnya. Ingin kubawakan tasnya pun, ia tak membolehkannya.
“sini pa..mama bawain tasnya”
“gk usah ma,, biarin papa ja”.
Kubiarkan suamiku pergi meninggalkanku sendirian. Akupun duduk kembali di kursi sofa kado ulang tahun perkawinan dari suamiku. Berbagai macam Tanya menggelayut di pikiranku. apa memang suamiku sebagai pejabat kantoran itu  punya selingkuhan, apa memang dia nikah siri layaknya berita yang selalu mengiasi layar kaca,, yaah semua pikiran negatifku bermunculan.
Dreeet..dreet..dreettt. Suara getar HPku. Kubuka dan langsung kubaca.
“NUR, MAMA MENINGGAL”
Pesan sangat singkat semakin merubah suasana sore itu. Semakin pekat dan mencekam.
“Mah..” suamiku menghampiri. Sepertinya dia sudah mandi. Kulihat dari binar wajahnya  yang segar.
“Mah,, tahu gk?”aku tak bisa berkata, mulutku serasa ada membekap.
“ma, kenapa?”. Iapun mengambil HP yang kupegang.
“Innaalillahi wa inna ilaihi Raaji’uun. Kudengar suamiku mengucap Tarji’.
“mah, mau pulang?”
Pertanyaan yang tak kuharapkan. Aku sudah menyangka ia kan menyuruhku pergi sendiri.
Aku terdiam seribu bahasa. Mulutku terkunci rapat.
“mah, papa gk bisa ikut, papa ada tugas, kalau mau nanti dianterin ma Pak Budi, sopir baru papa”
“iyaa”..aku tak mau banyak bicara lagi. Jiwaku serasa sudah berada di rumah. Wanita yang menjaga dan merawatku kini pergi tuk selama-lamanya. Dengan langkah gontai, akupun menyalami tangan suamiku. Diluar sana kudapati Pak Budi udah siap menyetir.
“Assalamu’alaikum, paa”..
“wa’alaikumsalam..hati-hati ma..”
Kulihat suamiku tersenyum dan  melambaikan tangannya, sedikitpun ia tak menampakkan kesedihan. Pikiran jelekku pun kembali mengitari otakku. Sejenakkan ku coba hilangkan semua pikiran kotorku itu. Mobilpun segera meluncur ke rumah mamaku.
“Bunda, kita dah nyampe ni.” Ujar  Pak Budi.
“Bunda?” jantungku langsung berdetak mendengar kata itu. Betapa tidak, suamiku akhir-akhir ini sering memanggil aku dengan panggilan bunda.
‘ohh iya pakk, ayo kita turun”. Akupun mengajak pak sopir turun dan ikut masuk rumah.
Tak bisa kubendung air mataku kala kulihat bendera kuning tertancap di depan gerbang rumahku. Dari jauh sudah kudengar suara isak tangis keluargaku.Pelan-pelan aku berjalan. Lalu aku masuk rumah dan kusungkuri mayat ibuku yang sudah terbungkus kain kafan itu.
“Mamaaaaaa,,jangan tinggalkan kami maa”. Aku menangis sejadi-jadinya.
“Nuuur??!!!”, pamanku memanggil. Nadanya  keras sekali
Semua mata tertuju padaku. Ada apakah gerangan, seakan-akan kehadiranku tak mereka harapakan.
“mau apa kesini, anak tak beradab”. Kaget sekali kudengar paman berkata seperti itu.
“Apa salahkuuu??” aku berteriak histeris.
Tiba-tiba..
Ngiung..ngiung..ngiung..
Suara sirine mobil polisi mendekati rumah duka itu. Satu persatu polisi masuk. Semuanya jadi teka-teki di pikiranku, mungkinkah kematian mamaku tak wajar.
“Kami tak menemukan  suami atas nama saudari Nurjannah. Sepertinya ia sudah kabur duluan”. Ujar Pak polisi.
Bibirku bergetar, jantungku berdegup kencang. Ku berucap terbata-bata”Appp..aaaaa?”
“Suami Anda telah melakukan tindak pembunuhan  terhadap ibu Sulasmi “. Tegas pak polisi.
Dugg.Astaghfirullahal”adziim. suami yang kupercaya sepenuh hati tega membunuh mamaku. Sangat kejam sekali. Ternyata ia ketahuan mamaku  sedang berselingkuh dengan gadis cantik disalahsatu tempat perbelanjaan. Iapun marah dan langsung membekap mamaku.
“Mamaaaa……”. Aku menangis sejadi-sejadinya.
Pandanganku kabur. Aku lemah tak berdaya. Di senja penuh duka dan kecewa terjawablah sudah semua pikiran negatifku.

“maafkan suamiku, Ma. Semoga tenang di alam sana Ma..”

                                                 --------------------****---------------------------

Tidak ada komentar :

Posting Komentar