DUKA SENJA
(Mungkin diksinya kurang pas. Tapi tak menjadi penghambat semangatku untuk selalu menulis. Allahumma Yassir Wa Laa Tu'assir. Amiin.)
---------------------------------------------
Rintik
gerimis sore itu membasahi tanah yang sudah lama rindu akan tetesan banyu,
tanah yang selama kurang lebih dua tahun aku tempati. Suasana lengang, sunyi,
seperti tak berpenghuni menyelimuti keadaan sore ini yang semakin gelap dan
mencekam, ditambah suara guntur dan kilatan
halilintar juga angin kencang makin menambah keadaan terkesan
menakutkan.
“mama..mama..’’ suara sepeti anak kecil dari dalam kamar
sontak mengagetkanku yang sejak tadi berdiri mematung didepan figura foto mama
dan keluargaku yang lain. Acapkali aku jadi terkenang memori 3 tahun yang lalu,
disaat aku masih tinggal serumah dengan ibu dan adik-adikku.
“mama..mama..”
kembali untuk keduakalinya suara tersebut membuyarkan memoar kenanganku.
“siapa
disitu?” kubuka mulutku yang sejak tadi gemetar kedinginan.
“ma..ma..ma..a..” suaranya sangat terbata-bata, sayup-sayup,
menghilang, muncul lagi, begitu seterusnya.
Bergidik
bulu kudukku ditengah pekatnya sore ini. Suara anak kecil tadi membuatku
merinding karenanya. Aku sudah mencoba merayu suamiku untuk segera pindah dari
rumah ini. Banyak keganjilan yang kurasa selama tinggal di rumah mungil ini.
Tapi suamiku selalu saja tak
mengenyahkan. Sebagai isteri, yaa aku terima saja apapun keputusan dari
suamiku.
Kembali
kudengar suara itu..”maaa”..
Duuh
aku semakin takut, kubuka gorden jendela, berharap belahan jiwaku kan segera
datang. Memang sangat sehati sekali. Kulihat suamiku dengan Honda jazz silver
nya tiba di depan rumah. Dengan perasaan lega kusambut kedatangan suamiku.
“Assalamu’alaikum..”
“wa’alaikum
salam” jawabku sambil kucium tangannya yang agak basah.
Kubiarkan
suamiku duduk di ruang tamu,kubikinkan teh hangat. Di senja itupun kuungkapkan
rindu yang bergumul di hatiku sejak sebulan yang lalu ditinggal keluar kota.
“pah..gimana
proyeknya?” ku mulai pembicaraan
“Alhamdulillah,
isteriku,, papa dipercaya sebagai pemegang saham di perusahaan itu”
“Alhamdulillah
ya pa..jangan sampai papa lupa ibadah, itu semua cuma titipan dari Allah”
“Hmmm”.
Hanya itu respon dari suamiku.
Kembali
kulanjutkan pembicaraan. “oya pa,, semenjak ditinggal papa, mama selalu denger
anak kecil manggil-manggil dari kamar”
“hmm
itu cuma perasaan mama ja”. Selalu begitu respon dari suamiku.
Kepulangan
suamiku kali ini terasa aneh sekali. Kulihat gelagatnya yang sedikit beda dari
sebelumnya. Ingin kubawakan tasnya pun, ia tak membolehkannya.
“sini
pa..mama bawain tasnya”
“gk
usah ma,, biarin papa ja”.
Kubiarkan
suamiku pergi meninggalkanku sendirian. Akupun duduk kembali di kursi sofa kado
ulang tahun perkawinan dari suamiku. Berbagai macam Tanya menggelayut di
pikiranku. apa memang suamiku sebagai pejabat kantoran itu punya selingkuhan, apa memang dia nikah siri
layaknya berita yang selalu mengiasi layar kaca,, yaah semua pikiran negatifku
bermunculan.
Dreeet..dreet..dreettt.
Suara getar HPku. Kubuka dan langsung kubaca.
“NUR,
MAMA MENINGGAL”
Pesan
sangat singkat semakin merubah suasana sore itu. Semakin pekat dan mencekam.
“Mah..”
suamiku menghampiri. Sepertinya dia sudah mandi. Kulihat dari binar
wajahnya yang segar.
“Mah,,
tahu gk?”aku tak bisa berkata, mulutku serasa ada membekap.
“ma,
kenapa?”. Iapun mengambil HP yang kupegang.
“Innaalillahi
wa inna ilaihi Raaji’uun. Kudengar suamiku mengucap Tarji’.
“mah,
mau pulang?”
Pertanyaan
yang tak kuharapkan. Aku sudah menyangka ia kan menyuruhku pergi sendiri.
Aku
terdiam seribu bahasa. Mulutku terkunci rapat.
“mah,
papa gk bisa ikut, papa ada tugas, kalau mau nanti dianterin ma Pak Budi, sopir
baru papa”
“iyaa”..aku
tak mau banyak bicara lagi. Jiwaku serasa sudah berada di rumah. Wanita yang
menjaga dan merawatku kini pergi tuk selama-lamanya. Dengan langkah gontai,
akupun menyalami tangan suamiku. Diluar sana kudapati Pak Budi udah siap
menyetir.
“Assalamu’alaikum,
paa”..
“wa’alaikumsalam..hati-hati
ma..”
Kulihat
suamiku tersenyum dan melambaikan
tangannya, sedikitpun ia tak menampakkan kesedihan. Pikiran jelekku pun kembali
mengitari otakku. Sejenakkan ku coba hilangkan semua pikiran kotorku itu.
Mobilpun segera meluncur ke rumah mamaku.
“Bunda,
kita dah nyampe ni.” Ujar Pak Budi.
“Bunda?”
jantungku langsung berdetak mendengar kata itu. Betapa tidak, suamiku
akhir-akhir ini sering memanggil aku dengan panggilan bunda.
‘ohh
iya pakk, ayo kita turun”. Akupun mengajak pak sopir turun dan ikut masuk
rumah.
Tak
bisa kubendung air mataku kala kulihat bendera kuning tertancap di depan
gerbang rumahku. Dari jauh sudah kudengar suara isak tangis
keluargaku.Pelan-pelan aku berjalan. Lalu aku masuk rumah dan kusungkuri mayat
ibuku yang sudah terbungkus kain kafan itu.
“Mamaaaaaa,,jangan
tinggalkan kami maa”. Aku menangis sejadi-jadinya.
“Nuuur??!!!”,
pamanku memanggil. Nadanya keras sekali
Semua
mata tertuju padaku. Ada apakah gerangan, seakan-akan kehadiranku tak mereka
harapakan.
“mau apa kesini, anak tak beradab”. Kaget sekali kudengar paman berkata seperti itu.
“mau apa kesini, anak tak beradab”. Kaget sekali kudengar paman berkata seperti itu.
“Apa
salahkuuu??” aku berteriak histeris.
Tiba-tiba..
Ngiung..ngiung..ngiung..
Suara
sirine mobil polisi mendekati rumah duka itu. Satu persatu polisi masuk.
Semuanya jadi teka-teki di pikiranku, mungkinkah kematian mamaku tak wajar.
“Kami
tak menemukan suami atas nama saudari
Nurjannah. Sepertinya ia sudah kabur duluan”. Ujar Pak polisi.
Bibirku
bergetar, jantungku berdegup kencang. Ku berucap terbata-bata”Appp..aaaaa?”
“Suami
Anda telah melakukan tindak pembunuhan terhadap ibu Sulasmi “. Tegas pak polisi.
Dugg.Astaghfirullahal”adziim.
suami yang kupercaya sepenuh hati tega membunuh mamaku. Sangat kejam sekali.
Ternyata ia ketahuan mamaku sedang berselingkuh
dengan gadis cantik disalahsatu tempat perbelanjaan. Iapun marah dan langsung
membekap mamaku.
“Mamaaaa……”.
Aku menangis sejadi-sejadinya.
Pandanganku
kabur. Aku lemah tak berdaya. Di senja penuh duka dan kecewa terjawablah sudah
semua pikiran negatifku.
“maafkan
suamiku, Ma. Semoga tenang di alam sana Ma..”
--------------------****---------------------------
Tidak ada komentar :
Posting Komentar